Answer

Posted by adhiaxa November 2

But I’d rather you be mean than love and lie
I’d rather hear the truth and have to say goodbye
I’d rather take a blow at least then I would know
But baby don’t you break my heart slow

~Vonda Shepard – Baby Don’t You Break My Heart Slow

I asked you a question, I needed an answer.

Vonda wanted the truth. But I didn’t. I only wanted a simple answer. Truth, or lie, I wouldn’t know. I just wanted an answer.

If you want me to stop questioning, I will.

I asked because I cared.

But I guess I’ll stop asking. Because you want me to.

Posted in Uncategorized | No Comments »

Merdeka

Posted by adhiaxa August 17

Selamat ulang tahun, Indonesia.

Kami cinta perdamaian, tapi lebih cinta kemerdekaan
~Soekarno

Posted in Uncategorized | No Comments »

Eat Your Own Spaghetti

Posted by adhiaxa August 15

Bukan spaghetti yang itu, tapi yang ini.

Berapa kali rekan kerja sesama programmer mengatakan bahwa code program yang anda tulis ‘jorok’ ?

Kebanyakan programmer yang saya kenal, bisa berubah menjadi sangat-sangat defensive when it comes to criticize their codes. Bahkan, sampai ke level dimana saya seperti menghadapi pribadi yang berbeda. Padahal kritik, atau pertanyaan itu kadang cuma:

“eh, ini kenapa result dari query nya ga di free ya?”,

“kok ga ada handling kalo misalkan file yang dituju ndak exists?”,

“kenapa hasilnya ga di limit?”

“apa gak lebih baik kalo blablabla?”

Beberapa programmer meletakkan harga dirinya didalam code yang mereka tulis, thus, mengkritik, atau bahkan mengomentari code yang mereka tulis berarti mengkritik dan -bahkan- bisa berarti menyinggung harga diri mereka.  Geekhero comic secara gamblang mengilustrasikannya di sini.

Kritik memang kadang menyebalkan, tidak relevan, konyol, mengada-ada, dan tidak masuk akal. Tapi setidaknya kita semua bisa sepakat pada satu hal penting.

Beberapa kritik masuk akal, membangun, dan bahkan penting.

Sure, code itu mungkin sudah berjalan dengan baik, tidak perlu dilakukan apapun lagi, “if it’s not broken, don’t fix it“, right?.

Benar, tapi kadang ‘berjalan dengan baik’ saja tidak cukup. Bagaimana kalau harus dilakukan perubahan sedangkan existing program menghardcode semua variabel di dalamnya?

Bagaimana kalau ada programmer lain yang jadi kesulitan ketika akan melakukan perubahan karena source codenya tidak readable (ya ya, ini juga kadang tidak berarti codenya tidak readable tapi programmer lain itu yang lack of experience, but you know what I mean ).

Maksud saya adalah, kritik bukan sesuatu yang salah dan tidak berarti menyalahkan. Kritik cuma bagian dari realita yang harus kita hadapi, atau seharusnya kita hadapi. Semua tergantung cara kita melihat dan mengatur, mana kritik yang relevan dan bagus untuk di-implemen, dan mana yang tidak.

Lagipula, terlalu berlebihan kalau kita meletakkan harga diri pada code yang kita tulis, code bisa berubah, cara saya menulis program untuk memparsing suatu URL misalnya,  dulu dan sekarang bisa jadi sudah berbeda sama sekali. Saya bisa saja melihat source code suatu program dan berpikir, “apa maksudnya alur algoritma yang rumit, duplikasi dimana-mana, penamaan variabel yang tidak konsisten seperti ini? programmernya lagi mabuk kah?”, sebelum akhirnya sadar kalau penulis programnya adalah saya sendiri.

Ya, mungkin tidak semua pernah merasakan atau mengalami seperti yang saya alami, I’m a start-up programmer anyway ;) . Tapi untuk mereka yang pernah atau paling tidak setuju dengan yang saya katakan, you know what I mean. Menjadi programmer yang baik bukan berarti harus selalu benar, tapi kadang juga bisa menerima ketika memang salah.

Jadi ketika lain kali ada yang mengatakan,

“Codingmu parah, nggak  qualified untuk blablablabla”

atau

“It’s a simple script, I can write it in 15 minutes ;)

Anggap saja sebagai kritik yang harus yang akan memacu untuk menjadi lebih baik, atau at least, tidak separah sebelumnya.

(But seriously, “not qualified“? Apa ga ada pemilihan kata yang lebih baik?)

Posted in Uncategorized | No Comments »