Televisi Emosi

Posted by adhiaxa May 24

Saya ragu kalau ada seseorang yang pernah membayangkan bagaimana televisi bisa berevolusi menjadi seperti yang ada saat ini. Bagaimana televisi bisa menempatkan beberapa kontestan untuk memakan cacing, laba-laba, atau menguji nyali dengan bergantungan di tempat-tempat tinggi. Atau bagaimana beberapa orang anak laki-laki mempermalukan diri sendiri demi berkencan dengan seorang perempuan (atau amplop berisi uang). Belum lagi acara pencarian bakat atau entah apalah namanya dengan beragam variannya yang ditayangkan live dari jam 6 sore sampe jam 11 malam (atau lebih). Mengumpulkan ribuan bahkan jutaan sms untuk mendukung calon yang dijagokan menjadi idola, dimana lagi kalau bukan di televisi? Dan itu masih sebagian kecil, masih banyak contoh lain yang dapat dengan mudah disebutkan.

Untungnya saya ndak berminat menuliskan semuanya..

Televisi adalah pisau bermata dua, yang bisa membawa kita ke seluruh penjuru dunia, ke bulan, atau bahkan tempat-tempat lain yang kita sebelumnya tak pernah tahu. Menyuguhkan discovery channel, dan *tarik nafas panjang* sinetron Indonesia. Televisi membuat bangsa ini patah hati bersama ketika tim Thomas dan Uber gagal mejadi juara, dan berbangga ketika Chris John menjadi juara dunia. Televisi memberi kita Desi Anwar dan Gadisa Fauzi, seperti juga Olga Syahputra dan Ruben Onsu.

Mungkin, dan mungkin seharusnya, ada standar mutu di televisi. Stasiun televisi mestinya memiliki sense of responsibility tentang bagaimana mereka beroperasi di hadapan publik. Yang terjadi saat ini adalah mereka mengeksploitasi emosi penonton, menjadi media untuk merangsang guilty pleasure, atau bahkan keingin tahuan tak wajar, dengan satu tujuan: memberikan efek kecanduan(jika ada yang pernah melihat ibu-ibu yang rela tidur jam 10 malam untuk menonton Cinta Fitri season 2 , mungkin bisa menangkap maksud saya). Yang ujung-ujungnya berdampak pada rating, dan uang. Eye-candy lebih penting dari isi, yang berarti pembaca berita cantik lebih baik dari pembaca berita yang cerdas(tapi tidak cantik), dan apakah kita masih bisa menemui pembaca berita yang tidak cantik nowadays?, berita yang hanyalah berita, as is ?

Manusia dengan emosi yang sangat terbuka untuk dieksploitasi, dipermalukan, dicela, adalah apa yang kita lihat sekarang di televisi. And for God ’s sake, it sells!. Siapa yang tidak suka ketika di si cewek pelapor mendamprat pacarnya yang terbukti menerima ajakan selingkuh dari cewek lain di acara playboy kabel, atau ketika si cowok tidak terima dan mengajak berkelahi tim playboy kabel?. Fakta bahwa privasi si cowok mungkin terlanggar, atau bagaimana perasaan si cewek teraduk-aduk, itu cuma bagian dari bisnis. Rating. Uang.

Saya mual memikirkan stasiun televisi yang merendahkan derajat dari yang seharusnya ikut menjaga dan membangun bangsa ini lebih baik, menjadi tak lebih dari media pengeksploitasi. Demi rating. Dan uang.

Don’t you ?

***

And hunn, I’m glad I married to you, who dislikes sinetron almost as much as I do.


This entry was posted on Saturday, May 24th, 2008 at 7:47 pm. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

2 Responses to “Televisi Emosi

  1. ahava said on June 10th, 2008 17:47

    ntar langganan tipi kabel aja ya hun ^^

  2. Dani Rachmat K said on September 7th, 2008 05:21

    hmmm…. tivi kabel memang lebih baik…
    no *sigh….* Indonesian sinetron..
    ^^-

Leave a comment