Adil

Posted by adhiaxa January 29

Setiap orang yang pernah kehilangan seseorang menginginkan balas dendam, bahkan pada Tuhan jika tak mereka tak menemukan orang lain untuk disalahkan. Tapi di Afrika, suku Ku percaya bahwa satu-satunya cara mengakhiri kesedihan adalah dengan menyelamatkan nyawa.

Jika ada seseorang yang dibunuh, masa setahun berkabung diakhiri dengan ritual yang disebut Pengadilan Penenggelaman. Pesta semalam suntuk diadakan di pinggir sungai. Saat fajar, si pembunuh dinaikkan ke atas perahu, diikat supaya tidak bisa berenang, dan perahu ditenggelamkan.

Keluarga korban yang dibunuh harus memilih, mereka bisa membiarkannya tenggelam atau menyelamatkannya. Suku Ku percaya bahwa jika keluarga itu membiarkan si pembunuh tenggelam maka mereka telah mendapatkan keadilan tapi sisa hidup mereka dihabiskan dalam kedukaan. Tapi jika mereka menyelamatkannya, jika mereka mengakui bahwa hidup tidaklah selalu adil… tindakan itu dapat menghilangkan penderitaan mereka. (diterjemahkan dari sini)

~Silvia Broome - The Interpreter

Pilihannya ada pada diri masing-masing.
Tapi ketika kapal itu kini sudah tenggelam, bersama si pembunuh di dalamnya.
Apa itu berarti kita harus menghabiskan sisa umur dalam duka ?

Ketika kapal tenggelam tak sanggup kita cegah,
apakah maaf juga terlalu susah untuk diberikan ?

Dan hidup memang tidaklah selalu adil,
jadi biarkan pengadilan setelah kehidupan yang menghakimi.
bukankah yang pergi tak akan kembali ?

*turut mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya mantan presiden Suharto*


This entry was posted on Tuesday, January 29th, 2008 at 1:45 pm. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Comments

No comments yet.

Leave a comment